SAVE OUR WATER WITH SHOWER

SAVE OUR WATER WITH SHOWER

 

 

Saat ini kebutuhan akan air bersih semakin tinggi namun kebutuhan air bersih warga tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan air bersih yang ada. Di Jakarta yg padat penduduk, total kebutuhan air bersih sebesar 547,5 meter kubik pertahun. Hanya 54% yg sanggup disediakan PAM. Sisanya 251,8 juta meter kubik didapat dari tanah. Padahal potensi air tanah yg dapat dimanfaatkan hanya 186,2 juta meter kubik pertahun. Sehingga diperlukan suatu cara untuk menghemat air agar distribusi air dengan jumlah kebutuhan sebanyak itu tetap tercukupi bahkan saat musim kemaraupun. Salah satunya adalah penggunaan shower untuk mandi di masyarakat perkotaan.

Shower adalah salah satu alat mandi yang digunakan untuk memancarkan air dimana alat ini bisa diatur untuk memancarkan air sesuai keinginan pangguna. Mandi menggunakan shower dapat mengurangi penggunaan air berlebih dibandingkan menggunakan gayung. Mandi dengan shower slama 5 menit sama dengan menggunakan 30 gayung atau air bersih 30 liter. Survey Direktorat Pengembangan Air Minum, Direktorat Jenderal Cipta Karya 2006 menunjukkan bahwa di Indonesia, tiap orang Indonesia perharinya menghabiskan 65 liter air bersih untuk mandi, 45% dari total pemakaian air bersih rata-rata orang. Selain menghemat penggunaan air, shower juga memiliki kelebihan lain yaitu shower dapat menjangkau bagian dari tubuh kita yang tidak dapat dijangkau oleh gayung.

Berdasarkan uraian diatas maka sebagai masyarakat yang cerdas sebaiknya dapat menggunakan air dengan bijak demi keberlangsungan hidup anak cucu kita. Oleh karena itu, dari sekarang mari menggunakan shower pada saat mandi untuk mengurangi krisis air di bumi ini.

Save Our Water With Shower’

 

Tri Atmaja, Cerita Inspirasi

Nama : Tri Atmaja

NRP : G24100005

Laskar : 15 ( Laskar Moh. Hatta )

Semangatnya Tak Pernah Pudar

Ia dilahirkan dari keluarga petani. Sewaktu kecil Ia sudah dididik untuk hidup mandiri. Ketika berumur 6 tahun ia sudah mempunyai adik. Perhatian Ibunya sudah tidak begitu besar lagi seperti dulu karena perhatiannya harus dibagi untuk adiknya juga. Karena sudah dididik untuk hidup mandiri maka setelah adiknya lahir dan ia disuruh-suruh ini itu oleh orang tuanya ia tidak kaget.

Pada umur yang sama pula ia harus bersekolah. Sekolah Dasarnya tak cukup jauh dari rumahnya, sekitar 400 m. Tetapi jalan menuju sekolahnya agak kurang nyaman. Terkadang juga harus tidak memakai sepatu saat berangkat sekolah karena jalanannya tidak memungkinkan. Ia berangkat dengan berjalan kaki. Setiap pagi ia bangun subuh dan mempersiapkan segala sesuatunya sendiri. Tetapi ia tidak patah arang dengan hal semacam itu. Kekuatan semangat yang telah ditanamkan dalam dirinya sejak kecil telah tumbuh seiring perkembangannya.

Sejak adiknya lahir ia mulai sadar akan dirinya yang telah menjadi seorang kakak sekaligus anak sulung. Sebagai seorang kakak, ia sering menjaga adiknya. Sedangkan sebagai anak sulung, ia sering melakukan tugas rumah seperti menyapu ataupun mencuci karena ia tahu ibunya kerepotan.

Ketika ia mulai tumbuh dewasa, ia melanjutkan sekolahnya. Saat SMP sampai SMA sekolahnya berjarak lumayan jauh, masing-masing sekitar 8 dan 16 km dan ia pun bersekolah dengan bersepeda. Jalanannya pun masih belum baik. Tetapi karena ketekunan, kerajinan, dan semangatnya itulah yang mendorongnya. Karena hal itu pula Ia sering mendapatkan peringkat satu di kelasnya.

Pada waktu umur 17 tahun Ia mempunyai adik lagi. Bertambah beratlah beban Ia menjadi seorang Kakak. Tapi sewaktu berummur 17 tahun itulah Ia harus meninggalkan rumah guna meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi. Ia kuliah di perguruan tinggi swasta dan mengambil jurusan akuntansi karena ia lebih menyukainya dan benar-benar ingin tahu mengenai hal itu. Orang tuanya belum mampu membelikan sepeda motor dan akhirnya ia kuliah sehari-hari dengan angkutan umum. Tetapi lagi-lagi ia tak patah arang. Semangatnya untuk memakmurkan keluarga dan untuk menyekolahkan adik-adiknya suatu saat nanti terus berkobar. Di perguruan tinggi pun ia mendapatkan prestasi yang baik beasiswa.

Akhirnya setelah sekian lama bergelut dengan buku, Ia lulus dengan predikat baik. Setelah lulus ia tidak menyianyiakan waktunya untuk bersenang-senang. Ia langsung melamar pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Tapi memang belum rezeki, semua perusahaan berkata bahwa Ia belum dapat diterima. Ia hampir putus asa, tetapi Ia langsung sadar akan tujuannya untuk memakmurkan keluarga dan untuk menyekolahkan adik-adiknya. Ia ditawari oleh saudaranya yang berwirausaha di Jakarta, ia pun tertarik dan akhirnya Ia ikut. Sambil Ia bekerja Ia juga melamar-lamar pekerjaan sana sini. Tak lama Ia ikut pamannya. Setelah itu Ia melanjutkan bekerja sebagai penjaga toko dan banyak lainnya di Jakarta. Ketika itu Ia tidak tinggal di kost-kostan melainkan tinggal di masjid dan juga sebagai marbot masjid.

Sampai suatu pekerjaan yang Ia jalani adalah sebagai sopir pribadi. Setelah sekian lama Ia bekerja, bosnya melihat sisi yang berbeda dari Dia. Ketekunannya, kerajinannya, kesolehannya, dan semangat bekerjanya sangat disukai oleh Bosnya. Sampai akhirnya bosnya tahu bahwa Dia lulusan akuntansi dan akhirnya pula Ia diangkat bekerja sebagai seorang karyawan di perusahaan bosnya. Samakin lama semakin berkembang Dia. Sampai-sampai Ia mendirikan usaha bersama teman-temannya yang akhirnya membawa Dia lebih sukses lagi hingga Ia mampu membeli mobil yang harganya ratusan juta. Orang Tuanya dan adik-adiknya sangat bangga padanya. Ketekunan, kerajinan, dan semangat itulah yang membawanya menjadi seperti itu.

Nama : Tri Atmaja

NRP : G24100005

Laskar : 15 ( Laskar Moh. Hatta )

Bersyukur

Seorang anak buta duduk bersila di sebuah tangga pintu masuk pada sebuah supermarket. Yup, dia adalah pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari para pengunjung yang berlalu lalang di depannya. Sebuah kaleng bekas berdiri tegak di depan anak itu dengan hanya beberapa keping uang receh di dalamnya, sedangkan kedua tangannya memegang sebuah papan yang bertuliskan “Saya buta, kasihanilah saya.”

Ada Seorang pria yang kebetulan lewat di depan anak kecil itu. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa keping uang receh, lalu memasukkannya ke dalam kaleng anak itu. Sejenak, pria itu memandang dan memperhatikan tulisan yang terpampang pada papan. Seperti sedang memikirkan sesuatu, dahinya mulai bergerak-gerak.

Lalu pria itu meminta papan yang dibawa anak itu, membaliknya, dan menuliskan beberapa kata di atasnya. Sambil tersenyum, pria itu kemudian mengembalikan papan tersebut, lalu pergi meninggalkannya. Sepeninggal pria itu, uang recehan pengunjung supermarket mulai mengalir lebih deras ke dalam kaleng anak itu. Kurang dari satu jam, kaleng anak itu sudah hampir penuh. Sebuah rejeki yang luar biasa bagi anak itu.

Beberapa waktu kemudian pria itu kembali menemui si anak lalu menyapanya. Si anak berterima kasih kepada pria itu, lalu menanyakan apa yang ditulis sang pria di papan miliknya. Pria itu menjawab, “Saya menulis, ‘Hari yang sangat indah, tetapi saya tidak bisa melihatnya.’ Saya hanya ingin mengutarakan betapa beruntungnya orang masih bisa melihat. Saya tidak ingin pengunjung memberikan uangnya hanya sekedar kasihan sama kamu. Saya ingin mereka memberi atas dasar terima kasih karena telah diingatkan untuk selalu bersyukur.”

Pria itu melanjutkan kata-katanya, “Selain untuk menambah penghasilanmu, saya ingin memberi pemahaman bahwa ketika hidup memberimu 100 alasan untuk menangis, tunjukkanlah bahwa masih ada 1000 alasan untuk tersenyum.”